Berapa banyak nikmat Tuhan yang telah kita dustakan?
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
QS. ar-Rahman (55) : 13
“Yaa Allah SWT, mohon ampunilah dosa hamba selama ini.. Dan mohon jangan jadikan hamba hamba-Mu yang mendustakan nikmat-Mu..”
Dahsyatnya menjadi orang kaya
Kawan,
Beberapa hari yang lalu (lebih dari satu hari yang lalu) aku menghadiri buka bersama di rumah seorang kenalan. Rumahnya gede dan luas. Alhasil, yang datang pun banyak (kira-kira kalo ditotal sih lebih dari 50 orang yang hadir di acara tersebut).
Kawan, setahuku orang yang memberikan makanan untuk berbuka akan mendapatkan pahala puasa orang yang diberi makanan tersebut, tanpa mengurangi pahala puasa miliknya sendiri. Bayangkan kawan, yang ada di acara tersebut jumlahnya banyak. Berarti logisnya pahala yang didapatkan si penyedia makan (baca: tuan rumah) berlipat-lipat. Ini belum termasuk kebaikan dari silaturahim yang terbina di rumah tersebut lho..
Subhaanallaah. Memang dahsyat menjadi orang kaya, karena orang kaya bisa melakukan banyak hal dan kebaikan yang tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak kaya (salah satunya adalah melakukan kegiatan buka bareng yang mengundang banyak orang).
Nah, apa ada di antara kawan-kawan yang tertarik menjadi orang kaya?
Wallaahu’alam.
Benarkah kita harus selalu ”realistis”?
Kawan,
Pernah nggak kalimat-kalimat seperti ini (atau sejenisnya) dialamatkan kepada dirimu?
”Kamu harus berpikir realistis dalam mengambil keputusan”
”Target tinggi memang boleh, tapi kamu harus tetap realistis”
”Realistis dong dalam bertindak”
”Realistis”, kata ajaib yang dipakai banyak orang untuk mengambil pilihan aman.
”Realistis”, kata ajaib yang dipakai banyak orang untuk mengambil target yang aman.
”Realistis”, kata ajaib yang dipakai banyak orang untuk mengambil tindakan yang aman.
Mengapa kata ”realistis” di atas benar-benar ampuh bagi kebanyakan orang?
Karena pada saat kita mengambil segala sesuatu yang berbau ”realistis”, kita seakan-akan mengambil jalan yang ”baik” karena kita mengambil hal-hal yang ”sesuai dengan keadaan dan kondisi kita sekarang”.
Karena pada saat kita mengambil segala sesuatu yang berbau ”realistis”, kita seakan-akan mengambil jalan yang ”baik” karena kita mengambil hal-hal yang ”sesuai dengan nasehat orang lain”.
Namun kawan, ada hal yang sering kali dilupakan oleh orang yang memuja dan mengagungkan kata ”realistis”. Hal itu adalah kenyataan bahwa realistis seringkali berkorelasi negatif (atau kata lainnya adalah ”tidak sejalan”) dengan yang namanya ”mimpi besar”.
Betapa banyak anak SMA yang tidak jadi memilih perguruan tinggi impiannya hanya karena terhambat oleh kalimat ”realistislah dalam memilih”,
Betapa banyak orang yang tidak jadi memilih pekerjaan yang benar-benar diimpikannya hanya karena terhambat oleh kalimat ”realistis dong dalam bertindak”,
Betapa banyak cita-cita besar yang kandas di tengah jalan hanya karena terhambat oleh kalimat ”realistis dong dalam memandang hidup”,
Kawan, sebuah tindakan dan hasil yang besar selalu diawali mimpi yang besar, bukan mimpi yang terkekang oleh realistis. Peliharalah mimpi-mimpimu yang besar, dan jangan takut oleh kata ”realistis”.
Wallaahu’alam.
Jangan malu menunjukkan jati diri kita
Kawan2ku sesama muslim,
Kita adalah seorang muslim. Karena itu, janganlah malu untuk menunjukkan ke-muslim-an kita.
Jangan gentar dengan cibiran orang lain.
Jangan takut dengan omongan orang lain.
Yakinlah apa yang kita tunjukkan adalah sesuatu yang benar. Yakinlah bahwa Islam mengajarkan kelembutan dan kebaikan.
Mari kita tunjukkan jati diri kita sebagai seorang muslim.
Jangan pernah berhenti berjuang
Kawan,
Hidup adalah perjuangan. Perjuangan untuk meraih apa yang kita anggap paling penting untuk diraih dalam hidup.
Memang adakalanya semangat juang kita menurun dalam perjuangan tersebut. Namun, yakinlah bahwa hal tersebut bisa dilawan. Bisa diatasi.
Menyerah adalah pantangan dalam perjuangan. Kesabaran dan keuletan adalah keharusan dalam perjuangan.
Yakinlah bahwa Allah SWT melihat perjuangan kita, karena Dia Maha Melihat. Dan cukuplah hanya Dia yang melihat perjuangan kita.
Mari berjuang kawan ! Jangan pernah berhenti berjuang kawan !
Ramadlan belum berakhir bung
Kawan,
Ramadlan masih belum selesai lho. Masih ada 10 hari terakhir.
Jangan sampai tenaga kita gembos justru di 10 hari terakhir ini. C’mon, mari kita kerahkan segenap tenaga untuk beribadah yang terbaik di 10 hari terakhir ini. Rehatnya ntar aja kawan, setelah Ramadlan berakhir.
Jangan sampai kita menyesal di akhir nanti, lebih-lebih menyesal karena kita tidak beribadah maksimal di 10 terakhir ini.
OK?
Mari efektif dan efisien dalam hidup
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,
(QS. Al-Insyirah : 7)
Dunia
Yaa Allah SWT, mohon letakkan dunia di tangan hamba, bukan di hati hamba…
Waktu tak akan pernah menunggu kita
Kawan,
Yakinlah bahwa waktu akan terus berjalan,
Berjalan angkuh ke depan tanpa pernah peduli pada manusia yang tercakup di dalamnya
Yakinlah bahwa waktu akan terus bergulir,
Membawa serta manusia yang ada di dalamnya, tanpa peduli manusia tersebut siap atau tidak
Yakinlah bahwa waktu akan terus melangkah,
Tanpa pernah menunggu kita
Moga kita menjadi manusia yang mampu bersinergi harmonis dengan sang waktu. Karena dengan begitu, Insya Allah kita tidak menjadi orang yang merugi.
Wallaahu’alam
Sombong
Dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Rosululloh SAW pernah bersabda, “Tidaklah akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari sifat sombong.” Tiba-tiba ada orang yang berkata kepada Rosululloh, “Sesungguhnya semua orang itu menginginkan baju dan sandal yang dipakainya indah/bagus?” Maka Rosululloh SAW menjawabnya, “Sesungguhnya Alloh SWT adalah indah dan menyukai keindahan, sedangkan kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”
(HR. Muslim)
*Dikutip dari http://almukmin-ngruki.com*
Yaa Allah SWT, mohon hindarkanlah dan jauhkanlah hamba dari sifat sombong..
Tinggalkan sebuah Komentar
Tinggalkan sebuah Komentar
Tinggalkan sebuah Komentar