Rasa Takut

Adalah hal yang wajar jika seseorang dihinggapi rasa takut saat ditanya oleh seseorang mengenai sesuatu.

Tidak hanya saat ditanya mengenai sesuatu yang tidak diketahuinya, rasa takut itupun bisa jadi muncul pada seseorang saat dia ditanya akan sesuatu yang dia ketahui.

Untuk keadaan yang pertama, yakni rasa takut saat ditanya mengenai sesuatu yang tidak diketahuinya, adalah hal yang mudah untuk dipahami. “Wah, aku nggak tahu tentang hal itu kok malah ditanyakan sih? Jawaban yang aku keluarkan pasti salah nih..”, adalah kalimat yang mewakili keadaan pertama ini. Untuk keadaan yang kedua, yakni rasa takut saat ditanya mengenai sesuatu yang dia ketahui, adalah cerminan dari keraguan yang ada di dalam hati orang yang ditanya. “Hmmm, bener nggak yah apa yang aku pahami selama ini? Jangan-jangan aku salah konsep / memahami mengenai hal ini?”, adalah kalimat yang mewakili keadaan kedua ini.

Memang sering kali sebuah rasa takut akan menghambat seseorang untuk mengambil tindakan. Tetapi untuk dua keadaan di atas, jika disikapi dengan benar, rasa takut tersebut bisa jadi akan membuat seseorang untuk menjadi lebih baik (dalam arti rasa takut tersebut akan menjadi sebuah cambuk / pendorong yang menjadikan diri sendiri lebih siap dan mumpuni saat harus memberikan sebuah jawaban).

Rasa takut saat ditanya adalah hal yang lumrah. Namun jangan sampai rasa takut tersebut menjadikan diri kita enggan untuk mempelajari sesuatu (karena berpikir cara paling aman untuk menghindari pertanyaan adalah dengan tetap mempertahankan ketidaktahuan yang dimilikinya sehingga dia selalu bisa menjawab “Aku tidak tahu” saat ditanya), lebih-lebih menjadikan kita enggan menjawab pertanyaan padahal kita mengetahui jawabannya hanya karena takut memberikan jawaban yang salah. Tempatkanlah rasa takut saat ditanya pada proporsi yang benar. Jadikanlah rasa takut tersebut sebagai pendorong diri kita untuk mempelajari sesuatu dengan lebih benar lagi. Jangan sampai rasa takut tersebut menghalangi diri kita untuk berbagi ilmu kepada orang lain, yang notabene merupakan langkah kita untuk berbagai lentera kehidupan dengan orang lain. Yakinlah bahwa Allah SWT akan menuntun diri kita, termasuk dalam hal berbagi cerita ilmu kepada orang lain, saat kita melaksanakannya dengan niatan dan proses yang benar.

Wallaahu’alam.

-ditujukan pada diri sendiri, dan juga pada sesama yang melangkah di jalan bernama “pendidik”-

Masih Tetap Lapar

Masih tetap lapar akan hasil,

Masih tetap lapar akan performansi,

Masih tetap lapar akan gelar.

Moga ke depannya menjadi jauh lebih baik dan moga niatan menjadikan hal2 tsb sbg media da’wah dalam kerangka media ibadah kepada-Nya tidak berubah. Aamin Yaa Rabb.

Yang Penting…

Memang benar bahwa cara paling ampuh utk membungkam kritik adalah dengan memperlihatkan prestasi / hasil yg ciamik.

Tapi yakin deh nada2 sumbang & sikap nggak suka pada diri kita akan tetap ada kawans meski diri kita sudah memperlihatkan hasil / prestasi yg ciamik ^^ Karena orang yang iri pada diri kita ada di mana2 dan jumlahnya tidak sedikit kawans ^^

Yg penting diri kita tetap konsisten dalam memperlihatkan hasil / prestasi yg ciamik & tidak ikut2an menjadi orang yg bisanya memberikan nada2 sumbang doang.

(Ini menurutku lho ^^)

-Copy paste edit dikit dari status FB tgl 14 September 2011-

Fase Hidup

Tiap fase hidup punya cerita & kesenangannya sendiri.

Tidak perlu terburu-buru utk menuju fase hidup berikutnya. Tidak perlu juga menunda-nunda.

Nikmatilah tiap fase hidup yang sedang dilalui. Tuliskanlah prestasi dalam setiap fase hidup yang ada.

Optimalkanlah tiap fase hidup yang ada. Karena saat telah berpindah ke fase hidup berikutnya, bisa jadi kita akan sulit utk kembali ke fase hidup yang sudah dilalui.

-ditujukan pada diri sendiri-

両方とも大切だよ

実力を見せるためには”結果”が必要だ。

そんでもって結果を出すためには”がんばり”(努力)が必要だ。

え、どっちが大切かだって?

上の繋がりがあるから両方とも大切だと俺は思っているよ ^^

(8月18日のフェースブックのステータスからコピーペースト+エディットした物 ^^)

Sampah

Sungguh kasihan orang yang menyebut orang lain dengan sebutan “sampah”, karena hal itu menunjukkan bahwa orang tsb mengakui dirinya adalah sampah yang sebenarnya / sebenar-benarnya sampah.

Mungkin orang itu malu utk mengatakan, “Aku adalah sampah yang sebenarnya lho!”, makanya dia memilih jalan memutar (menyebut orang lain dengan sebutan “sampah”).

Aku ingin mengucapkan hal ini kepada orang yg berlaku sprti itu (menyebut orang lain dengan sebutan “sampah”):
Aku paham anda ingin jujur mengenai diri anda sendiri, tapi ya mbok jangan memakai jalan memutar gitu tho. Coba deh gunakan jalan yang gentle kalo mau jujur mengenai diri anda sendiri.

Ntar Nyesel lho..

Yuks mari jangan menyia-nyiakan Ramadlan.. Ntar nyesel lho..

*Ditujukan lbh ke diri sendiri

(Copy paste edit dikit dari status Facebook tgl 13 Agustus 2011 ^^)

Tanyakan ke Diri Sendiri

Sebelum menyalahkan orang lain, coba tanyakan ke diri sendiri seperti ini: Jangan2 ini terjadi karena salahku?

*Sekali lagi, ini menurutku lho ^^

Itu Menurutku lho ^^

Jika memang punya waktu luang banyak, mending dipake buat mengoreksi diri sendiri deh drpd mengorek-ngorek kesalahan orang lain.

*Hehe, itu menurutku lho ^^

(Copy paste dari status Facebook tgl 10 Agustus 2011 ^^)

Merasa “Ditampar”

Yaa Allah, mohon jadikanlah hamba hamba-Mu yang mampu memahami Al-Qur’an dan Al-Hadist dengan sebenar-benarnya pemahaman..

Dan mohon jadikanlah hamba hamba-Mu yang mampu mengimplementasikan dengan benar pemahaman tersebut dalam kehidupan ini Yaa Allah..

Aamin Yaa Robbal Aalamiin..

(Merasa “ditampar” setelah membaca sebuah tulisan. Tulisan tsb dapat diakses di sini: http://ejajufri.files.wordpress.com/2011/08/dialog_ulama_dng_si_cerdik.pdf)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.