Alih-alih

Alih-alih mengatakan kondisi yang lebih miskin adalah lebih baik, aku lebih suka mengatakan setiap kondisi mengandung kenikmatan.

Mari kita ambil contoh dalam hal makanan. Pop mie rasa bakso spesial yang baru saja aku makan untuk sarapan nikmat rasanya. Nasi udang empal bu rudy yang aku makan minggu lalu juga berasa nikmat (plus ditambah es beras kencur, hehehe). Dan begitu juga dengan marugame udon yang aku makan minggu lalu, aku sangat menikmatinya.

Jadi ya semua kondisi punya rasa nikmat. Aku kurang sreg jika ada yang memakai perbandingan yang intinya menyudutkan “kondisi mampu” dan lebih mengedepankan “kondisi kurang mampu”. Contohnya adalah tukang becak bisa tidur nyenyak di becaknya sementara seorang CEO perusahaan tidak bisa tidur nyenyak walaupun kasurnya empuk. Jika ada yang memakai analogi tersebut, tentunya tidak heran jika ada yang memakai analogi sebaliknya, yakni seorang CEO bisa tidur dengan nyaman di kasur yang empuk sedangkan tukang becak tidak bisa tidur dengan nyaman di becaknya, hehe.

Alih-alih menonjolkan sebuah kondisi, aku lebih suka mengatakan bahwa setiap kondisi memiliki kenikmatannya sendiri-sendiri. Dan yang aku tahu, setiap orang diuji apakah dirinya bisa menjadi orang yang bersyukur atau tidak pada kondisi yang sedang dia alami.

Wallaahu’alam,

Mengapa harus seperti itu?

mengapa mengidentikkan orang kaya dengan kolesterol dan penyakit2x lainnya?

mengapa mengidentikkan kekayaan dengan hal2x negatif seperti tidak bahagia dan terkekang dunia?

mengapa mengasosiasikan seperti itu?

bukankah dengan banyak harta diri kita bisa bersodaqoh banyak?

bukankah dengan banyak harta diri kita bisa menjelajahi banyak tempat baru?

bukankah dengan cukup harta diri kita bisa mendapatkan media olahraga yang sangat layak?

bukankah dengan cukup harta diri kita bisa mendapatkan pendidikan terbaik?

mengapa harus negatif sudut pandangnya?

mengapa harus seperti itu?

Wallaahu’alam,

Aset2x diri yang berharga

yang terpikirkan oleh diriku yang sekarang, berumur 32 tahun, aset2x diri yang berharga adalah waktu dan kesehatan.

berpikir bahwa aset2x tersebut lebih berharga daripada benda2x yang notabene berharga mahal.

tentu benda2x yang mahal tersebut masih dijaga dengan hati-hati, tapi mulai menyadari bahwa aset2x di atas lebih berharga nilainya.

dan, terpikir juga bahwa “pengalaman menggunakan / menikmati sesuatu” lebih penting daripada memiliki sesuatu tersebut.

hehe, apakah ini karena faktor umur? Wallaahu’alam.

Tidak terkenal

tidak terkenal itu sebuah karunia juga lho dari Allah Subhaanahu Wata’aalaa.

dengan menjadi tidak terkenal diri kita bisa lebih bebas berpendapat.

bisa lebih bebas berbicara.

dan tidak terkekang.

maka bersyukurlah masih menjadi orang yang tidak terkenal sebelum menjadi orang yang terkenal 🙂

Wallaahu’alam,

Dengan cara dan di saat yang terbaik

tetaplah yakin akan pertolongan dari Allah Subhaanahu Wata’aalaa.

jangan menyerah. jangan berputus asa.

yakinlah pertolongan dari-Nya pasti akan datang.

tetaplah memohon keikhlasan dan pertolongan serta perlindungan dari-Nya dalam menghadapi ujian2x hidup.

Insyaa Allah pertolongan-Nya akan datang dengan cara dan di saat yang terbaik.

Wallaahu’alam,

Mencicil pekerjaan

mencicil pekerjaan juga bukanlah hal yang mudah.

namun tetap, hal itu akan meringankan pekerjaan tersebut jika dilihat secara keseluruhan.

dan tentunya, dengan adanya proses mencicil itu kemungkinan pekerjaan tersebut selesai akan menjadi lebih besar (jika dibandingkan dengan menyelesaikan pekerjaan itu di satu waktu).

Wallaahu’alam,

Maka tetaplah lapar

kalo kamu sudah puas dengan apa yang ada sekarang (termasuk apa yang sudah dicapai), maka dikhawatirkan perkembangan kamu akan minim bay ke depannya.

tentu hal ini bukan berarti tidak bersyukur. bersyukur itu hal yang positif. justru malah akan gawat kalo diri kita tidak bersyukur.

rasa puas di atas adalah rasa puas yang melenakan. yang membuat diri kita malas untuk menggapai hal2x yang baru. yang membuat diri kita jumawa. yang membuat diri kita “kenyang” dalam hal pengembangan diri.

maka tetaplah lapar dalam menggapai hal2x baru. tetaplah lapar dalam mencari ilmu2x baru. tetaplah lapar dalam mencari pengetahuan2x baru. tetaplah lapar dalam mengembangkan diri.

motto yang dulu masih aku pegang ==> semakin diri ini berkembang, maka cipratan positif yang bisa diberikan ke lingkungan sekitar juga akan semakin banyak.

mari terus berkembang bay 🙂

Wallaahu’alam,

Setelah hal tersebut dilakukan atau dipelajari

kekhawatiran akan sesuatu itu akan berkurang setelah hal tersebut dilakukan atau dipelajari, Insyaa Allah.

misalnya, kekhawatiran dalam hal kuliah yang akan kita ajar akan berkurang setelah kita mempersiapkannya.

setidaknya itu yang aku alami.

mari kita berikhtiar maksimal dalam hal menyelesaikan masalah2x kita, yang mana masalah2x tersebut biasanya akan membuat kita khawatir.

dan yang tidak kalah penting, mari kita yakin bahwa Allah Subhaanahu Wata’aalaa akan menolong kita dalam menyelesaikan masalah2x kita. Dia-lah yang akan memberikan solusi terbaik pada semua masalah kita.

Wallaahu’alam,

Jadi ya jangan khawatir ^^

mari jangan khawatir dengan apa yang akan terjadi di masa depan.

termasuk dalam hal pekerjaan.

yang lebih penting adalah diri kita menyelesaikan tugas2x yang ada di depan mata dengan sebaik-baiknya.

dan selain itu, Allah Subhaanahu Wata’aalaa telah mengatur rezeki kita. jadi jangan khawatir 🙂

selama ini juga seperti itu (cobalah diingat pada saat mencari kerjaan setelah lulus S1). dan ke depannya juga akan seperti itu.

jadi ya jangan khawatir. serahkan semuanya pada Allah Subhaanahu Wata’aalaa.

Wallaahu’alam,

Muncul targetan lainnya

setelah mencapai sebuah target dalam hidup, akan muncul targetan lainnya.

atau mungkin bisa dikatakan keinginan lainnya.

itu yang aku alami.

setelah mencapai angka 20 untuk paper scopus, maka targetan2x lain yang muncul setelahnya adalah:

1). ingin melakukan kolaborasi riset dengan peneliti lain

2). ingin mempublikasikan paper di level yang lebih tinggi (di jurnal2x yang terindeks thomson reuters + scopus).

mungkin memang seperti itulah sifat manusia.

Wallaahu’alam,